Rabu, 27 Januari 2010

NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAHESA AYU: ANALISIS INTERTEKSTUAL

NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAHESA AYU:

ANALISIS INTERTEKSTUAL

1. Pendahuluan

Karya sastra merupakan potret kehidupan yang menyangkut masalah sosial dalam masyarakat. Persoalan sosial tersebut merupakan tanggapan atau respon sastrawan terhadap fenomena sosial beserta kompleksitas permasalahan yang ada di sekitarnya. Melalui karya sastra, persaoalan-persoalan tersebut menjadi potret indah dalam menggambarkan masyarakat bahkan dalam menganalisis kehidupan.

Seorang sastrawan apabila diterjunkan di suatu daerah dengan seorang wartawan akan berbeda laporannya ketika mereka ditarik kembali. Seorang wartawan akan melaporkan peristiwa yang terjadi di daerah tersebut dengan model berita atau jurnalistik. Novel, cerpen, atau puisi akan dilahirkan oleh seorang sastrawan dalam laporannya.

Karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya (Teeuw, 1980 : 11), termasuk di dalamnya situasi sastranya. Karya sastra dicpita berdasarkan konvensi sastra yang ada, di samping juga sebagai sifat hakiki sastra, yaitu sifat kreatif sastra, karya sastra yang lahir kemudian itu dicipta menyimpangi ciri-ciri dan konsep estetik sastra yang ada Selalu ada ketegangan antara konvensi dan pembaharuan (Teeuw, 1980:12)

Membaca karya sastra seolah-olah kita melihat ke belakang tentang zaman, peristiwa, teori kesastraan pada saat karya sastra itu diciptakan . Salah satu cara untuk memahami karya sastra ialah dengan jalan melihat hubungan intertekstual antara karya sastra yang memiliki hubungan sejarah, baik dengan karya yang sezaman maupun dengan karya sastra yang mendahuluinya. Hubungan sejarah ini baik berupa persamaan atau pertentangan. Dengan demikian membicarakan karya sastra itu sebaiknya dalam hubungannya dengan karya sezaman, sebelum, atau sesudahnya.

Nayla adalah salah satau karya fenomenal yang lahir pada masa reformasi yang juga ditulis oleh seorang wanita. Djenar Maesa Ayu adalah pengarangnya. Nayla adalah novel perdana Djenar yang langsung mendapat sambutan yang baik dari penikmat sastra ini terbukti nonel tersebut sudah dicetak ulang sebanyak 4 kali . Cetakan pertama bulan Mei 2005, cetakan kedua bulan Juli 2005, cetakan ketiga bulan September 2005, dan cetakan keempat bulan November 2005.

Hampir semua tulisan Djenar menyingkap sisi kehidupan yang ditabukan oleh masyarakat kita. Kehidupan lesbianisme, hostes di bar, mabuk-mabukan, perselingkuhan semuanya diceritakan oleh Djenar dengan gamblang tidak ada yang ditutup-tutupinya. Pembaca yang baru mengenalnya akan terusik, bisa jadi merasa tertampar oleh tulisan-tulisan yang disajikan dengan gaya pengucapan eksperimental dan inovatif.

Berdasarkan latar belakang di atas, karya ini dipilih sebagai objek penelitian. Sedangkan permasalahan yang akan dibahas ada dua. (1) Bagaimanakah karakteristik teks novel Nayla , khususnya tema alur dan tokohnya? (2) Bagaimanakah hubungan intertekstual novel Nayla dengan karya-karya sebelumnya?

Adapun tujuan penelitian ada dua. (1) Mendeskripsikan karakteristik novel Nayla, khususnya tema, alur dan tokohnya. (2) Menganalisis hubungan intertektual nonel Nayla dengan karya-karya sebelumnya.

3. Strukturalisme

Strukturalisme lahir di Amirika Serikat sekitar tahun 1920 yang terkenal sebagi kritik baru (New Criticism), salah satu teori kritik objektif adalah teori strukturalisme. Teori ini berorientasi pada karya sastranya sendiri, yaitu bahwa karya sastra adalah sesuatu yang mandiri (otonom) terlepas dari tiruan, pendidikan, ataupun pengarangnya. Karya sastra harus dianalisis struktur dalamnya (Inner Structure).

Menurut Piaget (dalam Pradopo ) struktur itu mengandung tiga gagasan yaitu (1) gagasan keseluruhan (Wholeness): sebuah karya sastra merupakan merupakan keseluruhan yang utuh, antara bagian-bagiannya saling berkoherensi (berjalinan dengan erat), (2) gagasan transformasi (Transformation): struktur karya sastra dapat ditransformasikan berdasar system dan aturan karya sastra itu sendiri, (3) gagasan pengaturan diri (Self Regulation): struktur mengandung gagasan pengaturan diri sendiri (self regulation), yaitu apabila salah satu berubah maka bagian yang lain mengatur dirinya sesuai dengan perubahan tersebut.

Analisisya sastra tergantung pada jenis sastranya, analisis sajak (puisi) berbeda dengan analisis fiksi, analisis sajak cenderung pada lapis bunyi dan lapis arti yang berupa kata-kata dan kalimat sajak. Jadi analisis puisi cenderung pada analisis kebahasaan. Sedangkan analisis fiksi (cerita rekaan sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita, maka struktur ceritanyalah yang dianalisis. Menurut Robert Stanton (Pradopo) unsur-unsur struktur cerkan terdiri atas (a) tema, (b) faka cerita yang terdiri dari tokoh, alur, dan latar, (c) sarana sastra (Literary Device).

Dalam analisis structural, unsure-unsur fiksi tersebut dicari atau ditunjukkan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsure dalam fiksi tersebut. Tema berjalinan erat dengan sarana sastra. Secara teoritis tema merupakan unsur yang pertama kali muncul, kemudian dibuat penokohan yang sesuai dengan temanya; begitu juga sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang berangkai menjadi alur dan berkaitan dengan latar, tempat dan waktu.

Tema merupakan dasar dari penulisan sebuah novel, apa yang dibicarakan dan apa yang menjadi dasar sebuah penulisan baik fiksi maupun nonfiksi. Alur merupakan rangkaian peristiwa yang disusun secara susul menyusul, sambung menyambung, dan merupakan rangkaian sebab akibat. Tokoh dan penokohan adalah pelaku cerita yang mempunyai karaktersistik dan perwatakannya masing-masing.

4. Hubungan Intertekstual

Dalam hal hubungan sejarah antarteks itu, perlu diperhatikan prinsip intertektualitas. Hal ini ditunjukkan oleh Rifaterre dalam bukunya Semiotics of Poetry (1978) bahwa sajak baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan sajak lain. Hubungan ini dapat berupa persamaan atau pertentangan. Selanjutnya dkatakan Rifaterre (1978:11,23) bahwa sajak (teks sastra) yang menjadi latar karya sastra sesudahnya itu itu disebut hipogram (Pradopo 2005: 167).

Julia Kristeva (dalam Culler, 1977:139) menegaskan bahwa setiap teks itu merupakan penyerapan atau transformasi teks-teks lain. Sebuah sajak itu merupakan penyerapan dan tranformasi hipogramnya. Dengan ungkapan lain, bagi Kristeva, masuknya teks ke dalam teks lain adalah hal yang biasa terjadi dalam karya sastra, sebab pada hakikatnya suatu teks merupakan bentuk absorsi dan transformasi dari sejumlah teks lain, sehingga terlihat sebagai suatu mozaik (Ali Imron: 2005:80).

Dalam realitasnya, karya sastra yang muncul kemudian ada yang bersifat menentang gagasan atau ide sentral hipogramnya, ada yang justru menguatkan atau mendukung, namun ada juga yang memperbarui gagasan yang ada dalam hipogram. Berdasarkan realitas itu, maka sifat hipogram dapat digolongkan menjadi tiga macam, yakni: (1) Negasi, artinya karya satra yang tercipta kemudian melawan hipogram; (2) Afirmasi, yakni sekedar mengukuhkan, hampir sama dengan hipogram; dan (3) Inovasi, artinya karya satra yang kemudian memperbarui apa yang ada dalam hipogram (Ali Imron: 2005:80).

5. Hasil Penelitian dan Pembahasan

5.1 Kajian Struktur

5.1.1 Tema

Novel Nayla bertema perjuangan seorang tokoh yang bernama Nayla untuk menunjukkan keberadaan dirinya ditengah-tengah kehidupan dunia ini. Ia berjuang untuk tidak menangis setiap kali petini yang telah disiapka oleh ibunya itu menusuki selangkangannya jika ia masih ngompol.. Ia berjuang untuk menunjukkan bahwa perempua tidak selamanya bias di jajah oleh laki-laki. Walupun dia perempuan dan lesbian dengan pasangannya yaitu Juli tetapi ia juga berhungan dengan laki-laki bahkan sejak berumur sembilan tahun.

Nayla berjuang untuk kelangsungan hidupnya sendiri dengan bekerja di bar dan akhirnya ia bertemu denga Juli pasangan lesbiannya. Pertemuannya dengan Juli membuat kehidupan Nayla agak lebih baik secara ekonomi. Juli menganggap dirinya laki-laki yang bertanggung jawab atas segala beaya kehidupan mereka berdua.

Perjuangan hidup Nayla memang sang berliku-liku. Ia pergi meninggalkan rumah karena takut kepada ibunya yang seperti monster; setiap kali Nayla berbuat kesalahan sedikit saja selalu disiksa. Ia mencari ayahnya dan ketemu tetapi tidak lama ayahnya meninggal. Ikut ibu tirinya tetapi nasibnmya sama saja . Ia dimasukkan ke panti rehabilitasi korban narkoba. Setelah keluar bekerja di bar dan akhirnya menjadi pengarang,

5.1.2 Tokoh dan Penokohan

Tokoh dalam novel Nayla antara lain: Nayla, Juli, Ayah dan Ibu Ratu, Ibu, Ben. Nayla adalah tokoh utama yang sangat takut pada figur ibu karena dengan kesalahan yang kecil saja ia sudah di siksa oleh ibunya. Ia seorang pemabuk, pengguna narkoba, pekerja bar, pemuas nafsu laki-laki, lesbian dan akhirnya menjadi seorang pengarang dengan nama Nayla Kinar.

Juli adalah pasangan lesbian Nayla. Ia memposisikan diri menjadi pelindung dan pemberi materi kepada Nayla. Selain tubuhnya yang tinggi besar ia juga yang pertama kali menemukan Nayla ketika sedang mabuk dan melindunginya.

Ibu adalah sosok monster bagi Nayla karena ketika ia membuat kesalahan sedikit saja misalnya menumpahkan sedikit nasi maka ibunya akan menyiksa dia dengan memukuli. Ibu juga sering menjemur diatas seng ketika Nayla menjatuhkan nasi segepok dan lauknya. Tetapi Ibu adalah seorang yang kuat, dia tidak menangis ketika ditinggal laki-laki pasangannya.

Ayah adalah seorang laki-laki tak bertanggung jawab karena meninggalkan Nayla dan ibunya. Ayah kawin lagi dengan Ratu yang menjadi ibu tirinya yang juga mencebloskan dirinya ke panti rehabilitasi.

Pasangan laki-laki Nayla yang paling lama adalah Ben, tetapi akhirnya juga berpisah karena Nayla tidak ingin bergantung pada laki-laki.

5.1.3 Alur

Alur yang dikembangkan oleh Djenar dalam novel Nayla adalah alur progresif atuu alur maju namun di sana-sini divarisikan dengan sorot balik atau flasback. Cerita itu dimulai ketika Nayla Masih kecil kemudian diakhiri dengan keberhasilan Nayla menjadi seorang pengarang terkenal.

5.2 Analisis Intertekstual

Berdasarkan realitasnya maka sifat hipogram dapat digolongkan menjadi tiga macam, yakni: (1) Negasi, artinya karya satra yang tercipta kemudian melawan hipogram; (2) Afirmasi, yakni sekedar mengukuhkan, hampir sama dengan hipogram; dan (3) Inovasi, artinya karya satra yang kemudian memperbarui apa yang ada dalam hipogram (Ali Imron: 2005:80).

Novel Nayla menyimpangi hipogram yang sudah ada sehingga termasuk kategori negasi yang melawan hipogram. Hiporam yang dilawan adalah tata tulis, etika dan estetika penulisan karya sastra.

Seperti yang disampaikan oleh Abram (Pradopo) ada empat orientasi sastra berdasarkan sejarah dan dialetikanya. Empat orientasi itu adalah orientasi mimetik yang menganggap karya sastra sebagai tiruan alam ide dan kehidupan; kritik pragmatik yang menganggap karya sastra sebagi sarana atau alat untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca; kritik ekspresif mengganggap karya sastra sebagai luapan perasaan dan pikiran pengarang; kritik objektif berorientasi pada karya sastra itu sendiri.

Kalau kita lihat dari kritik kedua bahwa karya sastra sebagai sarana atau alat untuk menyampaika tujuan pertentu kepada pembaca, Novel Nayla sangat menyimpang dengan orientasi sastra tersebut . Menurut kritik pragmatik semakin mendidik semakin karya sastra itu bernilai tinggi. Novel Nayla banyak menggunakan kata-kata yang saru dan vulgar sehingga tidak bias dikatakan mendidik apalagi kalau novel itu dibaca oleh anak sekolah walaupun sampul luarnya telah diberi label khusus untuk dewasa. Tidak ada yang melarang ketika anak SMP membeli novel tersebut dan membacanya walaupun sudah diberi label khusus dewasa. Kata-kata yang vulgar dan saru dapat dibaca pada kutipan di bawah ini:

Saya takut mengatakan apa yang dilakukan Om Indra kepada saya. Padahal saya ingin mengatakan kalau Om Indra sering meremas-remas penisnya di depan saya hingga cairan putih muncrat dari sana.

………

Om Indra juga sering ke kamar ketika saya belajar dan menggesek-gesekkan penisnya ke tengkuk saya.

………

Ia memasukkan penis itu ke vagina saya (Djenar 2005: 113)

Dari kutipan di tas dapat dikatakan bahwa novel Nayla menyimpangi apa yang disebut Abram bahwa sastra yang bernilai tinggi adalah sastra yang mendidik.

Penyimpangan lainnya adalah penyimpangan terhadap etika dan estetika penulisan sebuah novel. Sebuah novel biasanya ditulis dalam kalimat kemudian membentuk paragraph dan akhirnya membentuk sebuah wacana. Tetapi novel Nayla ada yang berupa catatan harian, transkrip email, transkrip sms, transkrip telepon, transkrip wawancara, headline (judul) dalam majalah.

Catatan harian terlihat terlihat pada bab 1 subbab III yang diawali dengan catatan harian Ibu Lina tanggal 5 Agustus 1987. Catatan harian Ibu Lina juga tertanggal 27 dan 28 Oktober 1987. Catatan harian Nayla tertanggal 18 dan 19 Juli1987 serta tanggal 30 Oktober 1987.

Transkrip telepon terlihat pada bab 2 subbab I yang diberi judul telepon.

Kriiiiiiiiing …

Halo?

Hi, Say. Di mana?

Hi. Lin. Gimana sih? Emangnya lu telepon ke mana?

Hehehe…iya juga ya… maksud gue, lu mau ke mana…

Transkrip sms mulai bab 2 subbab II .

Lu tau Ben deket sama cewek?

Sender:

Nayla

08169192

Sent:

21:03:45

11-01-2000

Transkrip email terlihat pada bab 2 subbab IV.

From: nayla@dikritikus.com

To: wawan@kritemantikus.com, tomboy@kritemantikus.com,

gumilar@kritemantikus.com, broto@kritemantikus.com

Subject: cerpen

Date: Sat, 12 Januari200 3:03 PM

Dear guys!

Aku habis nulis cerpen lagi niy.. kasih komentar ya!

Thank!

Luv

Nay (hal: 43)

Headline surat kabar terlihat pada halaman 124-129. Headline tersebut ditulis sangat besar dang menggunakan satu halaman tersendiri.

HEADLINE 1

Nayla Kinar

Sudah Tidak Perawan

HEADLINE 2

Nayla Kinar:

Minum Bir

Sejak Umur

Empat Belas Tahun

HEADLINE 3

Nayla Kinar

Suka Sesama Jenis

II

HEADLINE 1

Bung Radja,

“DIRADJAKAN “

Sebelum Berpulang

HEADLINE 2

Segelas Anggur dari

Radja untuk Ratu

HEADLINE 3

Ratu dan Nayla

AKUR?

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa penulisan novel Nayla menyimpangi etika dan estitika penulisan sebuah novel pada umumnya.

Hal yang menarik dari novel Nayla adalah adanya satu bab yang berisi cerpen Nayla Kinar. Cerpen itu berjudul Laki-laki Binatang! yang nama pelakunya menggunakan nama pengarang yaitu Djenar. Isinya merupakan pandangan Djenar terhadap sosok Ibu. Pandangan Nayla terhadap tokoh Ibu dalam cerpen tersebut sangat bertolak belakang dengan pandangan tokoh Nayla dalam novel tersebut. Dalam cerpen tersebut Nayla sangat kagum terhadap ibu sedangkan tokoh Nayla sangat takut terhadap sosok ibu.

Tokoh Nayla ini juga pernah di tuliskan dalam bentuk cerpen dengan judul Menyusu Ayah. Tokoh utamanya juga bernama Nayla. Tokoh Nayla tersebut diceritakan tidak menghisap payudara ibu tetapi menghisap penis ayah.

Nama saya Nayla. Saya perempuan, tetapi saya tidak lebih lemah daripada laki-laki. Karena saya tidak menghisap putting payudara Ibu. Saya menyedot air mani Ayah (Jangan Main-nain 2004: 37)

Rupanya cerpen itulah yang kemudian dikembangkan oleh Djenar menjadi novel yang berjudul Nayla dalam kumpulan cerpe yang berjudul Jangan Main-main (dengan Kelaminmu). Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan peertama kali pada bulan Januari 2004.

6. Simpulan

Dari analisis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa novel Nayla menyimpangi hipogram baik etika dan estetika maupun tata tulis prosa pada umumnya. Novel Nayla merupakan perkembangan dari cerpen Menyusu Ayah Karya Djenar sendiri yang diumpulkan dalam kumpulan cerpen yang berjudul Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu).

Daftar Pustaka

A.M. Ali Imron. 2005. “Intertekstualitas Puisi ‘Padamu Jua’ Amir Hamzah dan Puisi ‘Doa’ Chairil Anwar: Menelusuri `Cahaya` al-Qur`an dalam Puisi Sufistik Indonesia, dalam Kajian Linguistik dan Sastra, Volume 17. No. 32. 2005

Ayu, Djenar Maesa. 2003. Nayla. Jakarta: Gramedia

_______. 2004. Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu). Jakarta: Gramedia

Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_______. 2005. Pengkajian Puisi. Cetakan ke-9. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

_______. Strukturalisme. Makalah Bahan Kuliah

Teeuw, A. 1980. Tergantung pada Kata. Jakarta: Gramedia.

NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYU:

ANALISIS INTERTEKSTUAL

Makalah

Disusun sebagi Tugas Akhir Semester Mata Kuliah teori Sastra

Dosen Pengampu: Drs. Ali Imron, M. Hum.

Disusun Oleh:

Tulus Sih Rahmanto

NIM: S 200060036

MAGISTER PENGKAJIAN BAHASA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

SURAKARTA

2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar