Kamis, 28 Januari 2010

BAHAN AJAR LAFAL

BAHAN AJAR

KOMENTAR TERHADAP LAFAL, TEKANAN, INTONASI, DAN JEDA YANG LAZIM/BAKU YANG TIDAK

Setiap hari selalu ada tayangan iklan di televisi. Anda tentunya pernah menontonnya, bukan? Bagaimana bahasa yang digunakan dalam iklan tersebut? Bahasa yang digunakan dalm tayangan iklan pada umumnya menggunakan bahasa sehari-hari atau bahasa yang tidak baku. Bahasa yang tidak baku biasanya disebut pula bahasa yang tidak lazim. Bahasa yang tidak lazim tersebut biasanya terpengaruh oleh bahasa daerah, bahasa asing, dan penggunaan kaidah bahasa yang tidak tepat.
Perhatikanlah salah satu contoh iklan produk susu yang ditayangkan telavisi berikut ini, bagian dialognya antara lain:
1. Anak laki-laki : “Ini teh susu untuk saya, Bu?”
2. Anak Perempuan : “Itu susu kan?”
3. Anak laki-laki : “Iya ini teh susu.”
4. Anak perempuan : “Bu, Bu, susu koq dibilang teh”
5. Anak laki-laki : “Iya, ini teh susu.”
6. Anak perempuan : “Mana tehnya?”
7. Ibu : “Oh Allah lucunya, neng geulis mau?”
8. Anak perempuan : “Mau tapi nggak pake teh”
9. Ibu : “Walah, ndak mudeng”
Keterangan:
1. Teh : kata yang berasal dari daerah Sunda yang berfungsi sebagai pelancar kata/pendukung/penegas maksud. Kata teh disini bukan berarti sejenis minuman yang terbuat dari teh.
2. koq : berasal dari bahasa daerah jawa yang berfungsi sebagai pelancar saja.
3. Lucu nya : maksudnya lucu ya (akhiran nya dalm bahasa sunda berarti ya dalam bahasa Indonesia.
4. Neng : panggilan untuk anak perempuan daerah Jawa Barat (Sunda).
5. Geulis : artinya cantik (bahasa Sunda).
6. ndak : berarti tidak (berasal dari bahasa Jawa).
7. mudeng : berasal dari bahasa Jawa yang berarti “mengerti”.

Kalau kita simak dialog tersebut dari televisi, kita dapat menyimpulkan bahwa dalm dialog tersebut terjadi kesalahpahaman komunikasi. Kesalahpahaman komunikasi terjadi karena kedua anak tersebut mempunyai identitas dan latar belakang bahasa daerah yang berbeda, serta latar belakang social yang berbeda.
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dwibahasawan. Masayarakat dwibahasawan ini artinya masyarakat yang mempunyai dua bahasa, yaitu bahasa induk atau bahasa ibu (bahasa daerah) dan bahasa Indonesia. Dengan latar belakang seperti ini sering terjadi kesalahpahaman komunikasi antar masyarakat.
Selain itu, kesalahpahaman komunikasi sering terjadi karena pemakai bahasa belum memahami lafal, teknan, intonasi, dan jeda yang lazim/;baku dan yang tidak.
Berikut ini, uraian pengertian tentang lafal, tekanan, intonasi dan jeda.
1. Lafal : Cara seseorang atau sekelompok orang dalam satu masyarakat bahasa mengucapkan bunyi bahasa.
Contoh:
Saya membeli beras satu kuintal.
Kata beras dalam kalimat di atas bila diucapkan oleh orang dari suku Batak, biasanya diucapkan beras (ada tanda aksen).
2. Tekanan :Tekanan/aksen; artinya tekanan suara, tekanan bunyi. Ucapan yang ditekankan pada suku kata atau kata sehingga bagian itu lebih keras (tinggi) ucapannya daripada bagian yang lain. Suara yang keras pada kata yang dipentingkan dalam suatu kalimat.
Contoh:
Kami mengolah informasi (bukan orang lain).
Kami mengolah informasi (bukan mengerjakan pekerjaan orang lain).
Kami mengolah informasi (bukan mengolah yang lain).
3. intonasi : Lagu kalimat. Intonasi kalimat ialah gabungan dari bermacam-macam gejala yang umumnya disebut tekanan nada, tempo dan jeda dalam mengucapkan suatu kalimat.
4. nada : Tinggi rendahnya suara ketika kita mengucapkan kata dalam suatu kalimat.
Contoh:
Dia belum pergi.
5. tempo/jangka : Panjang pendeknya suara pada suku kata yang dipentingkan dalam suatu kalimat.
Contoh:
Saya menjual komputer (suku kata ya dilafalkan panjang, tinggi, dan lebih keras dibandingkan bagian atau kata lainnya).
Saya menjual komputer (al mendapat tekanan meninggi dan lebih panjang dari suku kata lain).
Saya menjual komputer (ter mendapat tekanan meninggi dan dipanjangkan cara pengucapannya).
6. jeda/kesenyapan : Hentian sebentar dalam ujaran (sering terjadi di depan unsur kalimat yang mempunyai isi informasi yang tinggi atau kemungkinan yang rendah.
Contoh:
Kamu memahat kayu//beliau mengarahkannya//
Beberapa contoh tanda intonasi kalimat.

= intonasi naik
= intonasi turun

= intonasi cepat
= intonasi lambat
∕ = berhenti sebentar
∕∕ = berhenti agak lama

Pelafalan yang lazim atau baku dapat kita ketahui dari buku Kamus Besar Bahasa Indonesia, sedangkan pelafalan yang tidak lazim atau tidak baku terdapat dalam suatu situasi yang tidak resmi.
Beberapa contoh situasi tidak resmi, yaitu:
1. Percakapan sehari-hari: antarkeluarga, antarteman, antarsahabat, antarkolega.
2. media massa:
medi massa cetak; majalah hiburan, majalah remaja;
media elektronik; televise (iklan), radio (iklan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar