Rabu, 31 Maret 2010

PEMBELAJARAN KOOPERATIF
ALTERNATIF METODE DALAM KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Oleh: Tulus Sih Rahmanto
NIP 19700110 199802 1 001

PENDAHULUAN
PELUNCURAN Kurikulum 2004 sebagai kurikulum berbasis kompetensi (KBK) mendapatkan tanggapan yang beraneka ragam. Beberapa sekolah menengah umum ( SMA dan SMP) berusaha menerapkannya dan mengumumkan bahwa sekolahnya telah menerapkan KBK.
Pemerintah daerah maupun provinsi juga banyak yang tanggap dan langsung menganjurkan agar sekolah di wilalayahnya menerapkan. Beberapa daerah mengklaim bahwa sekolah di daerahnya telah menerapkan KBK. Langkah yang ditempuh beberapa daerah ini sebenarnya tidak salah karena didasarkan atas edaran yang memberlakukan kurikulum 2004 di sekolah-sekolah mulai awal tahun pelajaran 2004/2005.
Data menunjukkan, beberapa sekolah yang menerapkan Kurikulum 2004 telah menjadi korban, yaitu pada saat pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN). Ada beberapa sekolah yang kelulusannya hanya mencapai 50 %, sehingga memaksa pemerintah untuk melakukan UAN susulan.
Mendiknas selaku penanggung jawab kemajuan pendidikan menganggap Kurikulum 2004 yang dikenal dengan KBK, saat ini dikatakan bukan merupakan KBK tetapi Kurikulum 2004. Sedangkan kurikulum KBK itu sendiri sekarang sedang digarap secara maraton di bawah koordinasi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang rencananya baru akan disahkan dalam bulan Januari ini. Menurut rencana 10 Januari 06.
Apa pun istilahnya, Kurikulum 2004 sebenarnya merupakan KBK, sehingga apa yang sedang dikerjakan oleh BSNP merupakan upaya evaluasi dan revisi terhadap beberapa kelemahan pelaksanaan KBK yang telah diterapkan di sekolah-sekolah mulai tahun pelajaran 2004/2005.


TATARAN IMPLEMENTASI
Sekolah, baik di tingkat SMA maupun SMP mulai tahun pelajaran 2004/2005 telah banyak yang menerapkan KBK yang sedang dalam taraf uji coba.
Hal ini tentunya membawa dampak yang kurang baik bagi siswa, karena selain guru itu sendiri kurang menguasai arah dari KBK juga masih banyak kelemahannya.
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam KBK menekankan pada keaktifan siswa untuk belajar sendiri, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan organisator.
Berbagai strategi pembelajaran yang mendorong keaktifan / potensi siswa tentunya harus diterapkan, seperti Cooperative Learning. Namun realisasinya pembelajaran tetap konvensional.
Seandainya ada upaya mengaktifkan siswa, siswa hanya diberi tugas belajar sendiri / mengerjakan soal dan gurunya santai, sehingga hanya meringankan beban guru dan memberatkan beban siswa. Hal ini terjadi karena banyak faktor yang merupakan sistem dalam pembelajaran itu, antara lain kondisi siswa, media, lingkungan, sistem evaluasi dan yang paling utama adalah kemampuan guru
Para guru tampaknya belum siap untuk melaksanakan KBK. Hal ini terlihat dalam kreativitas mengembangkan strategi pembelajaran, mengembangkan dan menggunakan media pembelajaran, mendorong kreativitas siswa.
Pelaksanaan evaluasi tampaknya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan guru tetap melaksanakan pembelajaran konvensional. Guru yang memiliki rasa tanggung jawab besar terhadap kelulusan siswa senantiasa akan mengusahakannya dengan berbagai cara.
Selama pelaksanaan evaluasi hanya menguji ranah kognitif/knowledge tingkat rendah, maka dalam kegiatan pembelajaran para guru akan terbelenggu oleh materi pelajaran, yaitu berusaha menghabiskan seluruh target materi pelajaran. Akibatnya pembelajaran tetap konvensional.
Ketersediaan media pembelajaran. Sistem pembelajaran yang menggunakan pendekatan kooperatif mengharuskan siswa untuk menekankan kontak langsung dengan sumber materi (media) yang harus disiapkan guru. Realitas yang ada ketersediaan media terbatas dan ketersediaan dana untuk pengadaan media pembelajaran relatif terbatas.
Selain itu keterampilan atau kreativitas guru untuk mengadakan dan menggunakan media pembelajaran juga terbatas.
Pelaksanaan evaluasi dalam KBK harus meliputi tiga aspek untuk setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar dan indikator. Hal ini kadang kurang dilaksanakan oeh guru, terutama di sekolah yang kurang kondusif dan disiplin.
Para guru banyak yang merasa memilki keterbatasan waktu dalam melaksanakan penilaian dan mengalami kesulitan untuk mengungkap kompetensi yang telah dikuasai siswa. Akibatnya evaluasi tetap cenderung hanya hanya mengungkap aspek kognitif.
Realitas yang ada menunjukkan, kondisi siswa bersifat heterogen. Dalam KBK kondisi siswa yang heterogen ini harus diperhatikan oleh guru.
Siswa yang memiliki kemampuan lebih perlu mendapat pengayaan, sedangkan yang kemampuannya kurang mendapatkan remidi. Hal ini tentunya akan memberatkan beban guru. Selain itu dilihat dari faktor siswa, siswa yang sudah terbiasa mengikuti pembelajaran dengan diberi/dicekoki cenderung mengalami kesulitan ketika harus belajar dengan cara mencari dan menemukan sendiri.
Kondisi ini sering kali menjadi salah satu faktor guru kembali melaksanakan pembelajaran konvensional.
Secara umum kondisi lingkungan, baik lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat tampaknya kurang mendukung penerapan KBK. Di lingkungan sekolah terkadang kurang kondusif untuk melaksanakan suatu pembaruan. Belum semua sivitas yang ada di sekolah memiliki komitmen yang sama untuk memajukan pendidikan. Terkadang orang yang tampak aktif dicemooh. Atasan para guru, terutama pengawas sekolah terkadang juga kurang berperan dalam mendorong profesionalitas guru. Kebanyakan dari mereka sekadar mencari kesalahan tanpa memberikan solusi.
Lingkungan masyarakat, khususnya pemerintah daerah kurang memberi perhatian yang proporsional terhadap kemajuan pendidikan.
Anggaran yang diberikan untuk pendidikan terbatas, bahkan ada indikasi anggaran pendidikan dari pusat tidak disalurkan sebagaimana mestinya. Selain itu terdapat anggapan bahwa guru adalah pekerjaan yang mudah yang dapat dilaksanakan oleh siapa saja.
Hal ini terbukti ada upaya dari pemerintah daerah yang mengalihtugaskan pegawainya menjadi guru sebagai akibat restrukturisasi
Pelaksanaan KBK perlu didukung oleh ketersediaan dana yang cukup. Realitas yang ada ketersediaan dana terbatas. Kemampuan sekolah dan siswa untuk membiayan pendidikan bervariasi. Kemampuan sekolah untuk meraih dana kompetitif juga relatif rendah.
Faktor lain yang perlu mendapat perhatian dalam hal dana adalah mental pengelola dana di sekolah. Beberapa indikasi menunjukkan, bantuan operasional sekolah yang diberikan pemerintah pusat kurang dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Pada makalah ini akan disajikan pembelajaran “cooperative learning model jigsaw sebagai salah satu alternanif pembelajaran KBK.

PEMBELAJARAN KOOPERATIF SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF
PEMBELAJARAN KBK

1) Makna Strategi Pembelajaran Kooperatif

Slavin (Cole, 1990: 324) menyatakan strategi pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama, yakni kerja sama antarpeserta didik yang trgabung dalam satu tim belajar untuk mencapai tujuan belajar secara bersama. Peserta didik belajar dalam kelompok yang anggoyanya terdiri dari 4-5 siswa. Tujuan pembelajaran kooperatif untuk mebangkitkan interaksi yang efektif di antara anggota melalui diskusi.

Dalam strategi pembelajaran kooperatif intinya adalah adanya saling ketergantungan positif di antara peserta didik, dapat dipertanggungjawabkan secara individu, dan melatih keteraqampilan sosial. Selain itu strategi itu mempunyai standar: (a) berlatih mendengarkan secara aktif, (b) saling kerjasama satu dengan yang lain, (c) adanya partisipasi dari ssetiap anggota kelompok, (c) dapat menjelaskan “ke-mengapa-an” dan (c) tugas-tugas dapat dikerjakan dengan baik.

(2) Ciri-ciri Strategi Pembelajaran Kooperatif

Ciri-ciri pembelajaran kooperatif menurut Stahl adalah sebagai berikut: (a) seperangkat pembelajaran khusus yang jelas dengan hasil yang lebh objektif; (b) penerimaan secara umum siswa lebih objektif; (c) ketergantungan positif; (d) selama proses belajar terjadi tatap muka antarteman; (e) ada pertanggungjawaban secara individu; (f) penghargaan dan ganjaran umum kepada kelompok yang secara akademik sukses; kelompok hiterogen; (g) prilaku-prilaku dan sikap positif dalam interaksi sosial; (g) refleksi (wawancara) terhadap proses kelompok; dan (h) pemanfaatan waktu untuk pembelajaran.

(3) Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif

Berkaitan dengan pembelajaran kooperatif ini, Leokona (Hermanto,2001:6 ) menyebutkan 6 kelebihan pembelajaran koopratif. (a) Mengajarkan nilai-nilai melalui kerjasama antarteman, (b) Membangun masyarakat dalam kelas. (c) Mengajarkan keterampilan dasar dalam kehidupan sosial. (d) Mengembangkan kemampuan akademik, percaya diri dan sikap saling menghargai terhadap sekolah maupun terhadap peserta didik yang mempunyai kemampuan tinggi maupun rendah. (e) menawarkan jalan alternatif. (f) Menekan adanya aspek komptetisi.

Selain hal tersebut di atas, kelebihan laindari strategi pembelajaran kooperatif adalah: (a) perserta didik lebih memperoleh kesemppatan dalam hal meningkatkan hubungan kerjasama antarteman, (b) peserta didik lebih memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, aktivitavitas, kemandirian sikap kritis, sikap dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain, (c) guru tidak perlu mengajarkan seluruh pangetahuan kepada peserta didik, cukup konsep-konsep pokok karena dengan belajar secara kooperatif peserta didik dapat melengkapi sendiri.

Kelemahan strategi pembelajaran kooperatif ada tiga. (a) Memerlukan waktu yang relatif banyak, terutama kalau belum terbiasa. (b) Membutuhkan persiapan yang lebih terprogram dan sistematik. (c) kalau peserta didik belum terbiasa dan menguasai pembelajaran kooperayif pencapaian hasil belajar tidak maksimal.
(3) Macam-macam Strategi Pembelajaran Kooperatif
Salvin (1995: 5) menyebutkan ada 5 macam metode pembelajaran kooperatif yang telah dikembangkan dan tiga diantaranya dapat digunakan pada hampir semua subjek dan tingkatan dua pendekatan lain dirancang untuk dan level tertentu (a) Student Teams Achievment Division (STAD). (b) Team Games-Tournament (TGT). (c) Jigsaw II. (d) Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) untuk pembelajaran membaca dan menulis pada grades 2-8. (e) Team Accelerated Instruction (TAI) untuk matematika pada grades 3-6. Pada makalah ini akan diaplikasikan model Jigsaw II.

Jigsaw II
Pemikiran dasar dari teknik ini adalah memberikan kesempatan siswa untuk berbagi dengan yang lain dan mengajar serta diajar oleh sesama siswa merupakan bagian penting dalam proses belajar belajar dan sosialisasi berkesinambungan. Siswa dibagi dalam kelompok berempat atau berlima. Masing-masing membaca atau mengerjakan salah satu bagian yang berbeda dengan yang dikerjakan oleh kelompok lain. kemudian mereka saling berbagi dengan kelompok yanhg lain yang lain. Cara ini membuat masing-masing anggota menjadi pemilik unik dan “ahli” sejumlah informasi sehingga kelompokakan mengahrgai peranan setiap anggotanya. Setel;ah proses ini, guru bisa mengevaluasi pemahaman siswa mengenai keseluruhan tugas. Siswaakan saling tergantung kepada rekan-rekannya.

Dengan demikian tujuan metode Jigsaw itu antara lain sebagai berikut: menyajikan metode alternatif selain ceramah dan membaca, mengkreasi ketergantungan positif dalam menyampaikan dan menerima informasi di antara anggota kelompok untuk mendorong kedewasaan berpikir, dan menyediakan kesempatan berlatih berbicara dan mendengarkan untuk melatih kognitif siswa dalam menyampaikan informasi.

Langkah-langkah metode Jigsaw
• Tahap “Kooperatif”
Tim Mawar, terdiri dari 5 anggota yang masing-masing ditugaskan untuk untuk mempelajari submateri A1,A2,A3,A4, dan A5. Tim Melati 5 orang anggota yang masing-masing mempelajari submateri A1, A2,A3,A4, dan A5. Tim Anggrek terdiri dari 5 anggota yang masing-masing mempelajari sub materi A1, A2,A3,A4, dan A5 dan seterusnya.
• Tahap “Ahli”
Kerja Tim (talk), dalam kerja tim ini sub materi A1 dibahas oleh anggota yang berasal dari Tim Mawar, Melati, dan Anggrek. Submateri A2, juga dibahas oleh anggota tim yang berasal dari Tim Mawar, dan Melati Anggrek. Demikian seterusnya untuk submateri A3-A5 .
• Tahap Tahap Lima Serangkai
Tahap berikutnya adalah team-report, yaitu masing-masing anggota tim kembali pada tim semula untuk melaporkan hasil hasil pembahasan submateri tersebut.
• Tes Individu
Evaluasi dapat dilakukan dengan cara tes tertulis atau (secara random) tes lisan.

Untuk lebih jelas prosedurnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Kelompok Kooperatif




Kelompok Ahli




SIMPULAN
Dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw tersebut siswa dengan sendirinya akan lebih aktif karena masing-masing anggota kelompok harus paham benar sebelum menjelaskan kepada kelompok lainnya. Pembelajaran yang demikian akan sangat mendukukung pembelajaran yang diamanatkan oleh kurikulum 2004 yaitu pembelajaran KBK










DAFTAR PUSTAKA


Cohen, L & Manion, L. 1994. Research methods Education. London & Canbera: Chroom Helm

Cole, P.G. (1990). Methods and Strategic for Special Education. New York. Prentice Hall.

Internet. 2004. Pembelajaran kooperatif. http://www.geocities.com/devlinepsilon/ilmiah@htm. Diambil pada tanggal 3 Mei 2007

Internet, Pembelajaran ”Cooperative Learning”Alternatif Metode dalam KBK
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1202/12/0803.htm. Diambil tanggal 3 Mei 2007

Johnson, D.W. & Roger, T.. 1998. Cooperative learning two heads learn beter than one. Diambil pada tanggal 3 Mei 2007 dari http://www.contex.org/ICLIB/ICII18/Johnson.htm.

Mettetal, G. Classroom action research overview. http:/www.mypagelusb.edu/gmattera/clasroomactionresearch.htm. Diambil pada tanggal 3 Mei 2007

Perdy Karuru. Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dan Seting Pembelajaran Kooperatif. Diambil pada tanggal 3 Mei 2007, dari http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/45/perdy_karuru.htm.

Internet, Pembelajaran ”Cooperative Learning”Alternatif Metode dalam KBK
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1202/12/0803.htm. Diambil tanggal 3 Mei 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar